Suku Sasak, Samawa, dan Mbojo adalah tiga suku asli yang mendiami propinsi Nusa Tenggara Barat. Walaupun ketiga suku tersebut berada pada satu propinsi yang sama tetapi memiliki adat istiadat dan bahasanya masing-masing, sehingga tidak heran apabila masyarakat Nusa Tenggara Barat memiliki adat Istiadat yang beragam.

1. Suku Sasak

Tradisi saat Hari Raya Idul Fitri/Idul Adha Islam Wetu Telu

Suku Sasak mendiami pulau Lombok yang meiliputi kota Mataram, kabupaten Lombok Barat, kabupaten Lombok Utara, kabupaten Lombok Tengah, dan kabupaten Lombok Timur. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam, uniknya sebagian kecil masyarakat suku Sasak, terdapat praktik Agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu.

Tenunan Suku Sasak

Kata Sasak berasal dari kata sak-sak yang memiliki arti satu-satu. Suku asli sasak terkenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga jika sudah pandai menenun. Menenun dalam bahasa Sasak adalah Sèsèk, Sèsèk dilakukan dengan cara memasukkan benang satu persatu (sak-sak), kemudian benang disesakkan atau dirapatkan hingga sesak dan padat untuk menjadi bentuk kain dengan cara memukul-mukulkan alat tenun.

2. Suku Samawa

Suku Samawa mendiami pulau Sumbawa bagian Barat sekitar 55% dari Pulau Sumbawa atau sekitar 8.493 km2 dari luas total pulau Sumbawa yang luasnya sekitar 15.448 km2. Wilayah yang didiami oleh suku Samawa yakni kabupaten Sumbawa dan kabupetan Sumbawa Barat. Sebagian besar suku Samawa beragama Islam.

Tradisi Pernikahan Suku Samawa

Suku Samawa menyebut diri mereka sendiri sebagai Tau Samawa dan menggunakan bahasa Samawa. Pada masa lalu, suku Samawa pernah membangun kerajaan yang kemudian menjadi Kesultanan Sumbawa sampai tahun 1959 yang kemudian dibubarkan oleh pemerintah pusat dan dibentuklah Pemerintah Daerah tingkat II Kabupaten Sumbawa tanggal 22 Januari 1959 dan pada 18 Desember 2003 Subawa Barat pisah dari kabupaten Sumbawa dan membentuk kabupaten sendiri.

3. Suku Mbojo

Suku Mbojo dibagi dalam 2 kelompok yakni kelompok Penduduk asli dan campuran. Penduduk asli Bima disebut Orang Donggo (Dou Donggo) yang dibagi dalam dua wilayah yakni Dou Donggo Di (Orang Donggo Barat) yang menghuni kawasan bagian barat teluk Bima dan Dou Donggo Ele (Orang Donggo Timur) yang menghuni kawasan bagian timur teluk Bima.

Kehidupan Dou Donggo Dimasa Lampau

Dou Donggo sebagian besar masih keturunan asli Bima yang menunjukkan suatu kecenderungan persamaan dengan orang Sasak Bayan Lombok yakni berambut pendek bergelombang, keriting, dan warna kulit agak gelap. Sedangkan Penduduk campuran yang bertalian dengan orang Bugis dan Makassar yakni ras Bangsa Melayu Muda yang menghuni kawasan pesisir pantai dengan ciri rambut lurus dan kulit sawo matang.

Banyak kata-kata dalam bahasa Bima yang memiliki persamaan dengan bahasa Jawa Kuno, utamanya yang masih dipergunakan oleh sisa penduduk asli yang tersimpan dalam bahasa Donggo, bahasa Tarlawi, dan bahasa Kolo. Hanya kadang-kadang pengucapannya sudah berubah atau pengucapannya tetap tapi artinya berbeda. Perubahan tersebut terjadi karena hubungan yang sulit atau terputus sehingga komunikasi antar penduduk induk sumber bahasa terputus pula.

Informasi yang kami berikan diatas semoga dapat menumbuhkan wawasan bagi anda tentang pengetahuan mengenai Suku, Bahasa, dan Budaya yang ada di Indonesia terkhususkan di Nusa Tenggara Barat. Bagi anda yang ingin tahu lebih luas tentang suku Sasak, Samawa, dan Mbojo bisa mengunjungi pulau Lombok dan Sumbawa.