082 339 443 335 info@mobillombok.com

Dibalik keindahan pulau Lombok sebagai pulau destinasi dunia, ternyata banyak wisata sejarah di pulau Lombok yang sayang untuk tidak diketahui oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Salah satunya sejarah Kerajaan Selaparang. Seperti apa sih, sejarahnya ? berikut ini kami berikan informasinya untuk anda.

Kerajaan Selaparang adalah salah satu kerajaan yang pernah ada di Pulau Lombok. Pusat kerajaan ini pada masa lampau berada di Selaparang (sering pula diucapkan dengan Seleparang), yang saat ini kurang lebih lebih berada di Desa Selaparang, Kecamatan Swela, Kabupaten Lombok Timur.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Selaparang

Tidak diketahui secara pasti tentang awal berdirinya Kerajaan Selaparang. Namun, terdapat beberapa sumber yang cukup dapat dipercaya. Salah satunya adalah kisah yang tercatat di dalam daun Lontar yang menyebutkan bahwa berdirinya Kerajaan Selaparang tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sejarah masuknya atau proses penyebaran Agama Islam di Pulau Lombok.

Disebutkan di dalam daun Lontar tersebut bahwa Agama Islam pertama kali dibawa dan disebarkan oleh seorang Mubaligh dari Kota Bagdad, Iraq. Mubaligh tersebut bernama AsySyaikh As-Sayyid Nūrurrasyīd Ibnu Hajar Al-Haytami atau yang biasa dikenal oleh Masyarakat Lombok dengan sebutan Ghaus Abdurrazzāq. Beliau selain sebagai penyebar Agama Islam, dipercaya juga yang menurunkan Sulthan-Sulthan dari Kerajaan-Kerajaan yang ada di pulau Lombok.

Wilayah Kerajaan Selaparang, Sumber @wacananusantara

Beliau pertama kalinya datang ke pulau Lombok tepatnya di Kabupaten Lombok Utara yang disebut dengan Bayan sekitar tahun 600-an Hijriyah atau abad ke-13 M (antara tahun 1201 hingga 1300 M). Beliau menetap dan berda’wah di sana, kemudian menikah sehingga lahirlah tiga orang anak dari Istri pertama, yakni : (1). Sayyid Umar, yang menjadi Datu Kerajaan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (2). Sayyid Amir, yang menjadi Datu Kerajaan Pejanggik, Kabupaten Lombok Tengah dan (3). Syarifah Qomariah atau yang lebih terkenal dengan sebutan Dewi Anjani.

Kemudian Ghaus ‘Abdurrazzāq menikah dengan Istri kedua yang merupakan seorang Putri dari Kerajaan Sasak sehingga lahirlah dua orang anak dari Istri kedua, yakni : Seorang Putra bernama Sayyid Zulqarnain (dikenal dengan sebutan Syaikh ‘Abdurrahman) atau disebut pula dengan Ghaos ‘Abdurrahman, dan Seorang Putri bernama Syarifah Lathifah yang dijuluki dengan Denda Rabi’ah. Sayyid Zulqarnain inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Selaparang sekaligus pula sebagai Datu (Raja) pertama dengan gelar Datu Selaparang atau Sulthan Rinjani.

Kejayaan Kerajaan Selaparang

Kerajaan Selaparang tergolong kerajaan yang kuat, baik di darat maupun di laut. Laskar lautnya telah berhasil mengusir Belanda yang hendak memasuki wilayahnya sekitar tahun 1667-1668 M. Selain itu, laskar lautnya pernah pula mematahkan serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gelgel (Bali) dari arah barat dua kali sekitar tahun 1616 dan 1624 M.

Setelah pertempuran terjadi, Kerajaan Selaparang mulai menerapkan kebijaksanaan baru untuk membangun kerajaannya dengan memperkuat sektor agraris. Maka, pusat pemerintahan kerajaan kemudian dipindahkan di sebuah dataran perbukitan, tepatnya di Desa Selaparang, Kecamatan Swela, Kabupaten Lombok Timur. Dari wilayah kota yang baru ini, semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui.

Wilayah Ibu Kota Kerajaan Selaparang inipun memiliki daerah bagian belakang berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi, bertingkat-tingkat hingga ke hutan Lemor yang memiliki sumber mata air yang melimpah. Berbagai sumber menyebutkan, bahwa setelah dipindahkan Ibu Kota maka Kerajaan Selaparang mengalami kemajuan pesat. Sebuah sumber mengungkapkan, Kerajaan Selaparang dapat mengembangkan kekuasaannya hingga ke Sumbawa Barat.

Peninggalan Kerajaan Selaparang

Beberapa peninggalan Kerajaan Selaparang yang menjadi bukti kejayaan Kerajaan Selaparang saat masanya, peninggalan tersebut diantaranya :

1. Masjid Pusaka Selaparang

Makam Raja Selaparang, Sumber @radarlombok

Masjid Pusaka Kerajaan Selaparang, didalam Masjid tepatnya didepan mimbar terdapat sebuah batu yang kini ditutup dengan kaca, konon batu tersebut berasal dari Kota Bagdad, Iraq. Selain iut, didepan Masjid Pusaka, terdapat sebuah bangunan yang berukuran sekitar 5 x 7 meter persegi, yang oleh masyarakat sekitar menyebutnya Gedeng Pusaka yaitu sebuah tempat menyimpan benda-benda pusaka kerajaan Selaparang, Didalam gedeng tersebut tersimpan sebuah Al-Qur’an bertulis tangan, Keris, Perisai, Sabuk Belo, dan peralatan perang Kerajaan Selaparang lainnya.

2. Makam Raja Selaparang

Makam Kerajaan Selaparang, Sumber @radarlombok

Tidak jauh dari Masjid Pustaka atau sekitar 6 km, terdapat sebuah makam Raja Selaparang yang terkenal di Pulau Lombok. Pada mulanya makam ini dibangun ketika salah satu Raja atau wali Selaparang diburu oleh Belanda, ketika itu Raja tersebut menerobos dinding Masjid yang berada di samping makam, atas dasar itulah makam ini kemudian dibangun. Di kompleks ini dulunya terdapat perpustakaan, namun oleh Belanda buku-bukunya dimusnahkan. Padahal di perpustakaan inilah terdapat sejarah kejayaan Kerajaan Selaparang dimasanya.

Bagi anda yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah Kerajaan Selaparang, Anda dapat berkunjung ke Desa Ketangga, Kecamatan Swela, Kabupaten Lombok Timur agar dapat melihat Masjid Pusaka dan Makam Raja Selaparang. Desa ini termasuk Desa Tertua dan menyimpan benda-benda pusaka Kerajaan Selaparang yang menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Selaparang dimasanya.